Skinpress Rss

Sabtu, 18 Februari 2012

Pemikiran Dale Carnegie tentang Kebebasan dan Kebahagiaan

0

pemikiran
Ketika kita masih anak-anak, segala hal terlihat mungkin. Dunia terbentang luas dan kita melihat masa depan sebagai pengalaman yang menyenangkan. Kita bisa melakukan apa saja. Saya percaya bahwa kehidupan merupakan pengalaman, dan kebahagiaan merupakan keadaan alami dan dimana posisi kita seharusnya. Namun kita membiarkan banyak hal merintangi kebahagiaan dan kebebasan kita. Dalam kehidupan kita, kita menghadapi banyak tantangan dan sayangnya, seringkali kita membiarkan tantangan tersebut merintangi jalan kita.

Dale Carnegie merupakan salah asatu penulis buku favorit saya. Ia benar-benar mengetahui seberapa menantangnya perjalanan yang kita lalui, dan ia menyediakan kita dengan beberapa panduan untuk memasuki wilayah yang sedang kita coba masuki. Berikut ini merupakan beberapa perangkap yang ia jabarkan menggunakan kata-katanya sendiri. Perangkap-perangkap berikut dapat merampas kebahagiaan dan kebebasan kita jika kita membiarkannya.

Keadaan

“Bukan apa yang anda miliki, atau siapa diri anda, atau dimana anda berada, atau apa yang anda lakukan yang membuat anda bahagia. Namun apa pemikiran anda.”
Ketika Viktor Frankl mengalami penderitaan yang amat sangat mendalam ketika ia berada di kamp Nazi, ia menemukan bahwa bukan dunia luar yang membuat anda merasa bahagia atau tidak; melainkan apa yang anda pikirkan dalam kepala anda. Sudut pandang Frankl, yang ia tulis dalam buku “Man’s Search for Meaning” adalah kita semua bertanggung jawab atas pengalaman hidup kita. Dari Buddha yang mengatakan “kita adalah hasil pemikiran kita sendiri”, hingga Earl Nightingale yang dalam bukunya “The Strangest Secret” menulis bahwa “anda akan menjadi seperti yang anda pikirkan”, ratusan bahkan ribuan penulis dan pemikir telah mengutarakan hal yang sama. Andalah yang mengendalikan diri anda sendiri; sehingga jangan berikan kekuatan anda kepada orang lain.

Kritik

”Setiap orang bodoh bisa mengkritik, mengutuk, dan mengeluh – dan kebanyakan orang berbuat demikian.”
Orang seringkali mengkritik anda karena membuat kekeliruan dalam melakukan sesuatu atau melakukan kesalahan. Saya terbiasa menerima kritikan dan menganggap serius kritik-kritik tersebut. Namun ketika saya benar-benar menerima fakta bahwa saya tidak sempurna dan bahwa saya juga melakukan kesalahan (setiap saat!) sama seperti semua orang di dunia ini; kehidupan saya berubah. Saya menjadi lebih percaya diri, berani mengambil risiko, dan yang paling penting, saya berhenti merasa khawatir.
Ketika seseorang menuduh saya melakukan kesalahan, saya biasanya berkata (setidaknya ke diri saya sendiri), ‘Ya, saya melakukan kesalahan. Saya manusia dan saya tidak sempurna. Saya pelupa, tidak konsisten, salah waktu. Tapi tahukah anda? Hal itu normal. Anda diperbolehkan melakukan hal-hal yang saya sebutkan tadi.’ Dan saya juga ingat bahwa siapapun yang menuduh saya sebenarnya sedang menunjuk diri mereka sendiri.
Tentu saja, kita harus melakukan refleksi dan belajar dari kesalahan kita – melakukan kesalahan yang sama berulang kali bukan merupakan hal yang baik – namun menerima kerapuhan dan memaafkan diri kita sendiri merupakan poin penting untuk menjadi bahagia dan sukses. Jika kita terlalu memfokuskan diri pada hal-hal yang bisa mengalihkan perhatian kita; hal itu sama saja dengan menyia-nyiakan kelebihan yang kita miliki.

Rasa Takut

”Lakukan hal yang anda takut untuk lakukan dan teruskanlah.. langkah tersebut merupakan cara tercepat dan terbaik untuk mengalahkan rasa takut.”
Sama seperti orang-orang pada umumnya, saya merasa takut untuk berbicara di depan umum. Jantung saya berdetak kencang, mulut saya terasa kering, tangan saya bergetar dan kulit saya terasa lembab. Saya pikir tidak ada orang yang merasakan ketakutan yang saya alami ketika saya harus berbicara di depan sekelompok orang. Saya lebih memilih berhadapan dengan seekor singa yang kelaparan daripada harus berbicara di depan orang-orang berdurasi 5 menit. Namun saya tetap harus melakukannya karena merupakan bagian dari pekerjaan saya. Awalnya memang sangat-sangat tidak mengenakkan, tetapi lama-lama saya menjadi terbiasa.
Saya menceritakan ini untuk memberikan ilustrasi bahwa rasa takut merupakan sesuatu yang tidak nyata – rasa takut bisa diatasi. Namun satu-satunya cara untuk mengatasi rasa takut adalah dengan menghadapinya. Anda bisa menjalani hidup anda dalam rasa takut, atau mengatasinya.
Kita semua tahu bahwa akhirnya tidak ada satu pun yang kita lakukan yang benar-benar berarti. Dalam 100 tahun kita akan meninggal dan terkubur. Dalam 1000 tahun tidak ada seorang pun yang mengingat kita. Dalam 1 juta tahun ras manusia mungkin sudah musnah. Sehingga kita harus memanfaatkan setiap hari yang ada selama ada waktu! Jangan biarkan rasa takut menguasai diri anda. Hadapi rasa takut anda; lakukan apa yang anda takuti dan anda akan mengubah kehidupan anda.

Bermimpi

”Salah satu hal tragis yang saya ketahui tentang manusia adalah kita cenderung menunda kehidupan. Kita memimpikan sebuah taman bunga di horison dan melupakan mawar yang mekar di luar jendela kita hari ini.”
Tanpa mimpi, kehidupan tidak berarti apa-apa. Merupakan sebuah tragedi ketika kebanyakan dari kita membiarkan kehidupan menghancurkan impian kita. Ada kalanya kita memimpikan hal-hal besar dan fantastis – masa tersebut terjadi ketika kita merasa semua hal mungkin terjadi, ketika kita melihat hal-hal indah yang ada di dunia. Namun impian harus menuntun kita ke suatu tempat. Impian bisa menjadi penunjuk arah dan bisa memberikan kesuksesan dan kebahagiaan jika kita mengikuti impian kita dengan ketekunan.
Namun seringkali kita menjadi terperangkap ke dalam halusinasi. Hari ini kita mempersiapkan diri untuk hari esok, dan tindakan-tindakan serta pikiran kita hari ini membentuk masa depan kita, namun hidup di dalam masa depan itu bukanlah sebuah pilihan jika kita ingin merasa bahagia. Jika kita terbiasa hidup di taman bunga ajaib seperti yang diceritakan Dale Carnegie, maka saat kita tiba disana, kita tidak akan mengenali tempat tersebut dan kita tidak akan menikmati hasil yang kita raih.
Ketika kita melihat kembali semua pengalaman yang telah kita alami, kita hanya memiliki diri kita sendiri untuk diberi ucapan terima kasih, atau untuk disalahi, atas semua kebahagiaan dan kebebasan yang kita raih. Pada dasarnya kita hanya memiliki diri kita sendiri. Namun kenyataan tidak selalu seperti itu – kita bisa belajar dari orang lain yang telah mengalami apa yang kita lalui dan membiarkan mereka menuntun kita.

0 komentar:

Posting Komentar